Gue anak ke-6 dari 7 bersaudara. Gue punya 3 saudara kandung perempuan dan 3 saudara kandung laki-laki. Gue perempuan, tapi sejak kecil gue seperti laki-laki dan itu terasa banget dalam pergaulan sehari-hari. Gue seneng manjat ke pohon, main ketapel karet,bahkan seneng maen gaplek dan catur sejak kecil. Dalam perjalanan gue beranjak dewasa, banyak pertanyaan yg hampir melanda remaja gak pernah terjawab karena nyokap-bokap gue agak kurang perhatian dan tidak akur meskipun hingga kini dia tetep beromantisme dimasa tua-nya. Gue itu sangat pintar menjaga jarak karena pada dasarnya gue sensitif termasuk jaga jarak terhadap ortu gue. Gue tidak ingin dilukai dan melukai. Just simple dalam kategori masa sekolah dan remaja gue. Tapi di antara 4 anak perempuan nyokap, gue lah yg sebenernya agak pemberontak. Gue seneng buku-buku sejarah dan geografi. Gue gak betah di rumah. Bagaimana caranya agar gue segera lepas dari rumah adalah kuliah. Ya, gue harus segera kuliah. Gue tipikal perempuan penyendiri, dan kalau dikamar pun saat masih dirumah gue males keluar rumah. HARAPAN adalah satu-satunya jalur gue untuk bertahan hidup setiap detik. Maka harapan-harapan lah yg gue ciptakan. Gue tidak pintar, bahkan gue itu malas untuk belajar tapi gue itu rajin untuk belajar sesuatu yg baru.

Nyokap gue adalah seorang pekerja keras, rajin beribadah dan ulet. Dan sejak gue kuliah gue ingin menjadi seperti dirinya minimal sifatnya karena nyokap gue itu lembut. Tapi jujur, gue gak betah dirumah. Gue jarang pulang dan menghabiskan masa-masa kuliah gue di kosan, di Depok. Meskipun ada beberapa temen, pada dasarnya gue kesepian. Nyokap gue selalu cukup untuk materi gue hidup dan kuliah, dan beruntungnya keluarga gue...gue gak pernah kekurangan dalam hal "MONEY". Makanya gue betah kalo di Depok, karena gue punya duit yg cukup buat sekedar bayar kosan, makan sehari-hari, beli buku, dan belanja buat dikosan. tapi gue jarang ngobrol sama orang rumah. Sekedar duduk santai, paling sama nyokap aja itu juga kalo mau berangkat lagi ke depok paling gue ngobrol didapur dan minta duit. Udah gue langsung cabut lagi. Tapi bokap gue selalu gak percaya kalo gue kuliah terus pulangnya malam sampai rumah. Makanya lebih baik gue jarang pulang. Nyokap pernah pesen kalo bokap gue itu sebenernya baik, dia keras, tapi sebenarnya dia baik. Ya gue udah tau, tapi gue pun gak bisa membanggakan buat dia......yaudah memang bokap gue baik, royal dan boros..itu aja yg gue tau. Mereka menganut sistem tradisi yg kuat bahwa keluarga gue sangat menjunjung moralitas keluarga. Artinya gak boleh aneh-aneh dalam kultur yg udah ada. Misalnya kalo jalan tol, itu bokap-nyokap seperti layaknya tronton yg berjalan lurus. Nah, gue pun harus seperti itu.

Entah apa yg gue identikan dengan diri gue sejak gue kuliah. Bahwa gue gak pernah punya arah hidup. Gue tidak terlalu suka dekat dengan temen perempuan. Sepanjang pengetahuan gue, teman perempuan pada akhirnya sedekat apapun akan menjadi sebuah konflik apabila terlalu dekat. Gue lebih suka teman-teman yg urakan dan bocor. Dan temen-temen di FISIPUI mewakilkan keurakan dan kebocoran itu. Dan gue lebih senang bergaul dan bersahabat dengan mereka. Karena sepanjang gue berteman, mereka yg diluar sana terlalu sensitif. Karena sejak gue masuk FISIPUI, gue tidak peka terhadap sensitivitas dan gue cuek, tak sesensitif pas saat dirumah dulu. Beberapa kali gue pacaran, tapi pada beberapa bulan kedepannya pun gue mengalah untuk tidak melanjutkan...karena menurut gue mereka yg masih muda seperti gue hanya mencari persinggahan sementara termasuk gue karena rasa ingin dicintai. Bagitupun gue terhadap hubungan pacaran gue dengan leo. Hanya sebatas itu. Dan gue gak pernah ingin serius karena gue gak pernah tertarik lagi dengan yg namanya keseriusan apalagi untuk memikirkan masa depan. Masa depan hanya bergantung pada kerja keras gue. Satu hal yg gue kenal dari leo saat gue brsama dia adalah dia sangat menghargai gue. Dia sangat menilai gue, bahwa dia mengatakan ortu gue itu baik dan gue punya masadepan yg baik. Selama pacaran dengan leo pun, gue sering naik gunung dan ke gua-gua dengan temen UI dan tidak dengan leo. Akhirnya, entahlah kesetiaan atau apa namanya....leo sangat memanjakan gue. Pulang naik gunung pas setibanya di depok, dia menjemput gue.....dan begitu seterusnya...sampai akhirnya gue berhenti untuk naik gunung. Leo beda 6 tahun diatas gue...umurnya dia sepantaran dengan umur kakak gue yg ke-5. Dia sangat suka mencium, mencium mndadak....minta dicium....mencium malu-malu di bis kota...dan bahkan kita seperti kecanduan untuk berciuman. Dan itu aneh buat gue. Tapi ciuman di bis kota lah, yg kadang membuat gue rindu dengannya. Gue tipe pembosan, dan saat gue sabtu-minggu libur kuliah dan sabtu-minggu dia masuk kuliah.....kita hampir jarang bertemu. Dan sumpah gue benci bget dengan kuliahnya yg sabtu-minggu. PUTUS-lah yg sering gue minta berkali-kali.....berjuta kali....dan kita pun akur lagi. Entah apa ini namanya, toh pada hari-hari berikutnya aktifitas kita berjalan normal kebali, gue kuliah dia bekerja.
